Terletak di jantung Borneo atau tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Kawasan Danau Sentarum yang merupakan komplek danau-danau yang terdiri dari 20 buah danau besar kecil, sejak tahun 1999 ditetapkan sebagai Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan mempunyai luas 132.000 Hektar. Danau Sentarum menjadi panorama lain di ujung cekungan Sungai Kapuas. Seolah tak mau kalah dengan pamor Sungai Kapuas, danau musiman ini pun menjadi ‘celengan’ air raksasa saat musim hujan dan lapangan kering saat musim kemarau. Meskipun dinamai danau, tetapi jangan bayangkan bahwa tempat itu seperti kolam raksasa yang terus berisi air, sebab pada musim hujan, ketinggian air bisa mencapai 14 meter. Akan tetapi, saat kemarau-biasanya Juli dan Agustus-”danau kebanjiran” itu berubah menjadi lahan kering yang dihiasi ratusan kolam ikan dan sejumlah sungai kecil. Danau Unik dan Langka Danau Sentarum sungguh berbeda dengan danau ‘konvensional’ lainnya, sebab Danau Sentarum sejatinya adalah daerah hamparan banjir (lebak lebung /floodplain). Dengan letak dan kondisinya yang berada di tengah-tengah jajaran pegunungan menjadikan kawasan ini sebagai daerah tangkapan hujan Selain itu, TNDS merupakan habitat bagi 265 jenis ikan air tawar, lebah, dan 675 spesies tanaman, dan 147 jenis mamalia. Danau Sentarum tidak seperti danau-danau lainnya. Airnya bewarna hitam kemerah-merahan karena mengandung tannin yang berasal dari hutan gambut di sekitarnya. Sebelum ditetapkan sebagai taman nasional tahun 1999, Sentarum berstatus cagar alam (1981/1982) dan suaka margasatwa (sejak 1983). Selain memiliki keanekaragaman hayati, Sentarum juga tercatat sebagai hutan lahan basah tertua di dunia. Pada musim penghujan Komplek Danau Sentarum akan terendam air akibat aliran air dari pegunungan di sekelilingnya dan dari luapan Sungai Kapuas yang merupakan Sungai terpanjang di Indonesia. Selama 9-10 bulan dalam setahun, kawasan Danau Sentarum akan terendam hingga kedalaman 6 – 14 meter. Diperkirakan tersimpan 16 triliun meter kubik air per tahun di kawasan ini. Dan uniknya pada musim kemarau panjang, sebagian besar danau menjadi kering. Pada musim kemarau menjadi hamparan kering dan terkadang ditumbuhi rumput laksana padang golf. Hal inilah yang menjadikan kawasan Danau Sentarum merupakan salah satu tipe ekosistem hamparan banjir paling luas yang langka dan masih tersisa dalam kondisi baik di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.
Keindahan Taman Nasional Danau Sentarum pun telah menjadi ikon dari Kabupaten Kapuas Hulu karena keunikan flora dan fauna serta tradisi hidup penduduk lokal. Terdapat 45 dusun permanen dan 10 dusun musiman, dimana penduduknya sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan. Pada masa lalu, Sentarum dikenal juga sebagai kawasan yang kaya akan ikan arwana atau siluk merah (Scleropages formosus). Namun, kini arwana yang nilai per ekornya jutaan, bahkan puluhan juta rupiah, itu bisa dibilang hanya tersisa di kawasan Meliau. Sentarum juga memiliki kekayaan lain, antara lain tujuh jenis hutan, seperti Hutan Rapak Gelgah yang ditumbuhi tanaman setinggi 5-8 meter dan tergenang selama 8-11 bulan, Hutan Pepah (dengan tumbuhan setinggi 25-35 meter), dan Hutan Kerangas (dengan tumbuhan setinggi 20-26 meter). Kekayaan ini mengundang minat puluhan, bahkan ratusan, peneliti dalam dan luar negeri. “Bisa dikatakan, Danau Sentarum merupakan surganya peneliti,” kata Direktur Canopy Indonesia Deny Sofian, yang sebulan terakhir berada di tempat itu untuk mengabadikan alam dan kehidupan masyarakat Sentarum. Pada kawasan ini tercatat paling tidak 120 jenis ikan, serta terdapat beberapa jenis spesies yang hanya dimiliki oleh Danau Sentarum dalam artian tidak ditemukan di belahan dunia lain. Terdapat 31 jenis Reptilia. Delapan jenis diantaranya merupakan jenis yang dilindungi seperti Buaya Muara (Crocodylus porosus), Buaya Senyulung (Tomistoma schlegelli), Labi-labi, Ular, Biawak, dll. Bahkan Buaya Katak atau Buaya Rabin (Crocodylus raninus) yang di Asia telah dinyatakan punah masih diketemukan di kawasan ini. Danau Sentarum juga menyuguhkan keindahan alam yang tak terkira hingga dijuluki sebagai The Last Paradise. Namun keberadaan Danau Sentarum sepertinya akan terancam dengan adanya pembukaan hutan besar-besaran dengan dalih perkebunan atau illegal logging. Namun, menuju lokasi itu tidaklah mudah. Dari Pontianak, butuh waktu lebih kurang 14 jam untuk perjalanan darat dan air. Di samping itu, di dalam TNDS belum ada tempat penginapan. Tentu para peneliti berharap, daerah yang menjadi “surga” bagi mereka dikelola dengan baik. Bila perlu, pemerintah mengundang investor untuk membangun membangun penginapan atau hotel yang layak agar potensi yang ada tidak sia-sia, tetapi bisa dipromosikan jadi tujuan wisata. Keindahan Danau Sentarum pun seolah tak pernah habis sepanjang musim. Gallery Danau Sentarum Buaya Senyulung di Danau Sentarum Danau Sentarum dijadikan Tempat Golf Danau Sentarum Ketika Kering Danau Sentarum Ikan Arwana Merah Ikan Ulang Uli di Danau Sentarum Tampilan Danau Sentarum Terancam Punah The Last Paradise
21.24
Unknown